|
Sabtu, 22 Desember 2012
JADI PENGUSAHA TAK HARUS PINTAR
Sabtu, 15 Desember 2012
Tak Perlu “Pintar” Untuk Menjadi Kaya
Seperti itulah mungkin yang dapat saya katakan jika ingin menjadi orang kaya di Indonesia. Mengapa saya sebut Indonesia? Karena memang saya hidup di Indonesia dan yang dapat saya perhatikan dengan mudah adalah apa yang terjadi di Indoenesia. Mengapa tak perlu pintar untuk menjadi seorang yang mempunyai banyak harta? Kita lihat saja apa yang ditayangkan di layar televisi di setiap pagi atau sore. Lihat apa yang dibacakan oleh pambawa acara berita pagi di televisi swasta. Yang dibahas disana ada tidak akan jauh dari para wakil-wakil kita yang duduk di kursi yang bonafit atas pilihan kita. Entah pilihan tersbut memang dari hati nurani ataukah suatu pilihan yang diatur.
Sebenarnya judul di atas bisa saja dianggap salah. Karena wakil rakyat (saya jamin) pasti pintar memainkan kata-kata di depan publik. Tidak mungkin ada seorang wakil rakyat yang bisa duduk di kursi “panas” tanpa adanya kalimat-kalimat sandiwara (fakta maupun fiktif) yang keluar dengan manisnya sehingga dapat menghipnotis rakyat jelata untuk cuma-cuma memberikan pijakan agar calon wakil rakyat tersebut dapat duduk dengan mudah.
Namun kepintaran terebut bukanlah kepintaran yang murni. Kepintaran yang hanya berwujudkan fisik belaka. Kepintaran yang hanya digunakan untuk kepentingan pribadi sendiri. Oleh karena dengan tegas saya mengatakan bahwa mereka yang duduk sebagai wakil rakyat di gedung mewah itu bukanlah orang-orang yang pintar namun “pintar”, ya di dalam tanda kutip. “Anak kecil tahu apa tentang urusan orang dewasa. Bisanya cuma protes saja,” kata seorang wakil rakyat yang tidak terima dikatakan tidak memiliki kepintaran. “Maaf Pak, bapak mau menukar mobil bapak satu saja dengan sepeda yang biasa saya gunakan untuk berangkat kuliah ini? Saya merasa kepanasan kalau setiap hari harus naik sepeda terus untuk berangkat ke kuliah,” demikian yang saya katakan menanggapi perkataan wakil rakyat tersebut.
Coba saja lontarkan perntanyaan tersebut kepada wakil rakyat yang mungkin bisa kalian temui. Pasti akan terlihat bagaimana seorang wakil rakyat yang memang mendedikasikan dirinya sebagai wakil yang sesungguhnya. Wakil yang hanya menjawab dengan singkat dan jelas sehingga dapat memuaskan pertanyaan seperti itu itulah wakil yang sesungguhnya. Itu menurut versi saya, versi kalian mungkin memiliki cara tersendiri untuk memastikan bagaimana seorang wakil yang sesungguhnya.
Inti dari permasalahan yang dibahas di atas adalah profesionalisme. Maksudnya adalah bagaimana kita bekerja sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Jika memang bekerja sebagai wakil rakyat hendaknya bekerja sebagai wakil yang rela berkorban dengan yang diwakilkannya. Jika memang bekerja sebagai tukang jahit maka hendaknya menjahit dengan mendedikasikan dirinya sebagai tukang jahit yang menjahitkan pakaian sesuai dengan permintaan pelanggan. Memang terlihat naif jika mengatakan bahwa kita tidak menginginkan kekayaan. Namun percayalah bahwa sesungguhnya kebahagiaan hidup yang sesungguhnya bukanlah berasal dari uang, melainkan berasal dari bagaimana kita berguna untuk orang lain.
“Hampir setiap orang ingin menghilangkan kata “wakil” dari jabatannya. Wakil bupati ingin jadi bupati, wakil presiden ingin jadi presiden. Hanya saja ada sekelompok orang yang tidak menginginkan kata “wakil” hilang dari jabatannya, ya mereka adalah Wakil Rakyat.”
sumber :
http://salahuddin-muhammad.blog.ugm.ac.id/2012/02/29/tak-perlu-%E2%80%9Cpintar%E2%80%9D-untuk-menjadi-kaya/
Langganan:
Postingan (Atom)